Halaman

Powered By Blogger

Selasa, 10 September 2013

Warga Cikeruh Pertama Kali Produksi Dorlok

TRIBUNNEWS.COM--Idih Sunaedi mengungkapkan awalnya warga Cikeruh memproduksi senjata api rakitan yang disebut dorlok.  Senapan itu bentuknya mirip senjata laras panjang pada umumnya, namun mekanisme untuk memukul bagian belakang peluru jauh lebih sederhana.

"Dorlok itu singkatan dari didor terus dicolok. Di colok untuk memasukan peluru. Sejak 1960-an warga Desa Cikeruh memproduksi senapan dorlok untuk Organisasi Keamanan Desa (OKD), sekarang namanya hansip. OKD menggunakan itu untuk melawan DI-TII (Darul Islam-Tentara Islam Indonesia) di Garut," ujarnya.
Pada masa itu produksi dorlok sangat didukung pemerintah, karena memang produksinya untuk mendukung perlawanan terhadap kelompok pemberontak DI-TII.  Peluru yang digunakan adalah peluru tajam yang dipasok Tentara Nasional Indonesia (TNI).
"Setelah DI-TII bubar,  senapan dorlok mulai dilarang,  sehingga warga membuat senapan angin. Waktu itu memang senapan angin lagi ngetren," ujarnya. Warga lebih dulu  membeli senapan angin produksi luar negri.
Senapan itu lalu dibongkar untuk dilihat secara lebih detail komponen-komponennya. Warga lalu  membuat tiruannya, hingga akhirnya bisa melakukan memodifikasi.
 Ternyata produksi lokal tersebut laku di pasaran, dan menarik perhatian warga Desa Cipacing yang lokasinya bersebelahan dengan Cikeruk untuk datang dan berguru.
"Setelah warga Desa Cipacing bisa memproduksi sendiri, mereka mulai buka bengkel. Sampai akhirnya banyak yang usaha senapan angin. Sekarang Cipacing terkenal karena produksi senapan angin," tutur guru sekolah dasar itu.
Pada masa jayanya, di Desa Cikeruh terdapat sekitar 240 bengkel yang memproduksi senapan angin. Jumlah pengrajin lebih dari 500 orang. Badai krisis moneter 1998 lalu membuat banyak usaha pembuatan senapan angin gulung tikar.
"Waktu krisis moneter itu harga-harga naik, termasuk harga bahan baku pembuatan senapan angin. Tapi harga senapan angin tidak bisa naik. Ada pengrajin yang  banting stir jadi kuli dan tukang ojek.  Baru pada 2001 bisnis pelan-pelan mulai naik," jelasnya.
Jumlah bengkel yang tersisa di Desa Cikeruh sekitar 60 bengkel, sedang pengrajin 120 orang. Namun sejak usai Lebaran lalu penjualan senapan angin semakin lesu. Pemicunya, serangkaian penangkapan yang dilakukan polisi terhadap oknum pengrajin senapan angin di Desa Cipacing.
"Saya juga punya bengkel, sebulannya itu bisa produksi 35-40 pucuk dan laku semua. Tapi sejak dua minggu terakhir barang saya belum ada yang laku," jelasnya.
Kini orang-orang jadi takut memiliki senapan angin. "Katanya, sekarang kalau bawa-bawa senapan angin suka ditanyain polisi, orang jadi takut," tambahnya.

sumber : http://www.tribunnews.com/regional/2013/09/07/warga-cikeruh-pertama-kali-produksi-dorlok

Warga Cikeruh Pertama Kali Produksi Dorlok

TRIBUNNEWS.COM--Idih Sunaedi mengungkapkan awalnya warga Cikeruh memproduksi senjata api rakitan yang disebut dorlok.  Senapan itu bentuknya mirip senjata laras panjang pada umumnya, namun mekanisme untuk memukul bagian belakang peluru jauh lebih sederhana.
"Dorlok itu singkatan dari didor terus dicolok. Di colok untuk memasukan peluru. Sejak 1960-an warga Desa Cikeruh memproduksi senapan dorlok untuk Organisasi Keamanan Desa (OKD), sekarang namanya hansip. OKD menggunakan itu untuk melawan DI-TII (Darul Islam-Tentara Islam Indonesia) di Garut," ujarnya.
Pada masa itu produksi dorlok sangat didukung pemerintah, karena memang produksinya untuk mendukung perlawanan terhadap kelompok pemberontak DI-TII.  Peluru yang digunakan adalah peluru tajam yang dipasok Tentara Nasional Indonesia (TNI).
"Setelah DI-TII bubar,  senapan dorlok mulai dilarang,  sehingga warga membuat senapan angin. Waktu itu memang senapan angin lagi ngetren," ujarnya. Warga lebih dulu  membeli senapan angin produksi luar negri.
Senapan itu lalu dibongkar untuk dilihat secara lebih detail komponen-komponennya. Warga lalu  membuat tiruannya, hingga akhirnya bisa melakukan memodifikasi.
 Ternyata produksi lokal tersebut laku di pasaran, dan menarik perhatian warga Desa Cipacing yang lokasinya bersebelahan dengan Cikeruk untuk datang dan berguru.
"Setelah warga Desa Cipacing bisa memproduksi sendiri, mereka mulai buka bengkel. Sampai akhirnya banyak yang usaha senapan angin. Sekarang Cipacing terkenal karena produksi senapan angin," tutur guru sekolah dasar itu.
Pada masa jayanya, di Desa Cikeruh terdapat sekitar 240 bengkel yang memproduksi senapan angin. Jumlah pengrajin lebih dari 500 orang. Badai krisis moneter 1998 lalu membuat banyak usaha pembuatan senapan angin gulung tikar.
"Waktu krisis moneter itu harga-harga naik, termasuk harga bahan baku pembuatan senapan angin. Tapi harga senapan angin tidak bisa naik. Ada pengrajin yang  banting stir jadi kuli dan tukang ojek.  Baru pada 2001 bisnis pelan-pelan mulai naik," jelasnya.
Jumlah bengkel yang tersisa di Desa Cikeruh sekitar 60 bengkel, sedang pengrajin 120 orang. Namun sejak usai Lebaran lalu penjualan senapan angin semakin lesu. Pemicunya, serangkaian penangkapan yang dilakukan polisi terhadap oknum pengrajin senapan angin di Desa Cipacing.
"Saya juga punya bengkel, sebulannya itu bisa produksi 35-40 pucuk dan laku semua. Tapi sejak dua minggu terakhir barang saya belum ada yang laku," jelasnya.
Kini orang-orang jadi takut memiliki senapan angin. "Katanya, sekarang kalau bawa-bawa senapan angin suka ditanyain polisi, orang jadi takut," tambahnya.

sumber : http://www.tribunnews.com/regional/2013/09/07/warga-cikeruh-pertama-kali-produksi-dorlok

Warga Cikeruh Pertama Kali Produksi Dorlok

TRIBUNNEWS.COM--Idih Sunaedi mengungkapkan awalnya warga Cikeruh memproduksi senjata api rakitan yang disebut dorlok.  Senapan itu bentuknya mirip senjata laras panjang pada umumnya, namun mekanisme untuk memukul bagian belakang peluru jauh lebih sederhana.
"Dorlok itu singkatan dari didor terus dicolok. Di colok untuk memasukan peluru. Sejak 1960-an warga Desa Cikeruh memproduksi senapan dorlok untuk Organisasi Keamanan Desa (OKD), sekarang namanya hansip. OKD menggunakan itu untuk melawan DI-TII (Darul Islam-Tentara Islam Indonesia) di Garut," ujarnya.
Pada masa itu produksi dorlok sangat didukung pemerintah, karena memang produksinya untuk mendukung perlawanan terhadap kelompok pemberontak DI-TII.  Peluru yang digunakan adalah peluru tajam yang dipasok Tentara Nasional Indonesia (TNI).
"Setelah DI-TII bubar,  senapan dorlok mulai dilarang,  sehingga warga membuat senapan angin. Waktu itu memang senapan angin lagi ngetren," ujarnya. Warga lebih dulu  membeli senapan angin produksi luar negri.
Senapan itu lalu dibongkar untuk dilihat secara lebih detail komponen-komponennya. Warga lalu  membuat tiruannya, hingga akhirnya bisa melakukan memodifikasi.
 Ternyata produksi lokal tersebut laku di pasaran, dan menarik perhatian warga Desa Cipacing yang lokasinya bersebelahan dengan Cikeruk untuk datang dan berguru.
"Setelah warga Desa Cipacing bisa memproduksi sendiri, mereka mulai buka bengkel. Sampai akhirnya banyak yang usaha senapan angin. Sekarang Cipacing terkenal karena produksi senapan angin," tutur guru sekolah dasar itu.
Pada masa jayanya, di Desa Cikeruh terdapat sekitar 240 bengkel yang memproduksi senapan angin. Jumlah pengrajin lebih dari 500 orang. Badai krisis moneter 1998 lalu membuat banyak usaha pembuatan senapan angin gulung tikar.
"Waktu krisis moneter itu harga-harga naik, termasuk harga bahan baku pembuatan senapan angin. Tapi harga senapan angin tidak bisa naik. Ada pengrajin yang  banting stir jadi kuli dan tukang ojek.  Baru pada 2001 bisnis pelan-pelan mulai naik," jelasnya.
Jumlah bengkel yang tersisa di Desa Cikeruh sekitar 60 bengkel, sedang pengrajin 120 orang. Namun sejak usai Lebaran lalu penjualan senapan angin semakin lesu. Pemicunya, serangkaian penangkapan yang dilakukan polisi terhadap oknum pengrajin senapan angin di Desa Cipacing.
"Saya juga punya bengkel, sebulannya itu bisa produksi 35-40 pucuk dan laku semua. Tapi sejak dua minggu terakhir barang saya belum ada yang laku," jelasnya.
Kini orang-orang jadi takut memiliki senapan angin. "Katanya, sekarang kalau bawa-bawa senapan angin suka ditanyain polisi, orang jadi takut," tambahnya.

sumber : http://www.tribunnews.com/regional/2013/09/07/warga-cikeruh-pertama-kali-produksi-dorlok

Warga Cikeruh Pertama Kali Produksi Dorlok

TRIBUNNEWS.COM--Idih Sunaedi mengungkapkan awalnya warga Cikeruh memproduksi senjata api rakitan yang disebut dorlok.  Senapan itu bentuknya mirip senjata laras panjang pada umumnya, namun mekanisme untuk memukul bagian belakang peluru jauh lebih sederhana.
"Dorlok itu singkatan dari didor terus dicolok. Di colok untuk memasukan peluru. Sejak 1960-an warga Desa Cikeruh memproduksi senapan dorlok untuk Organisasi Keamanan Desa (OKD), sekarang namanya hansip. OKD menggunakan itu untuk melawan DI-TII (Darul Islam-Tentara Islam Indonesia) di Garut," ujarnya.
Pada masa itu produksi dorlok sangat didukung pemerintah, karena memang produksinya untuk mendukung perlawanan terhadap kelompok pemberontak DI-TII.  Peluru yang digunakan adalah peluru tajam yang dipasok Tentara Nasional Indonesia (TNI).
"Setelah DI-TII bubar,  senapan dorlok mulai dilarang,  sehingga warga membuat senapan angin. Waktu itu memang senapan angin lagi ngetren," ujarnya. Warga lebih dulu  membeli senapan angin produksi luar negri.
Senapan itu lalu dibongkar untuk dilihat secara lebih detail komponen-komponennya. Warga lalu  membuat tiruannya, hingga akhirnya bisa melakukan memodifikasi.
 Ternyata produksi lokal tersebut laku di pasaran, dan menarik perhatian warga Desa Cipacing yang lokasinya bersebelahan dengan Cikeruk untuk datang dan berguru.
"Setelah warga Desa Cipacing bisa memproduksi sendiri, mereka mulai buka bengkel. Sampai akhirnya banyak yang usaha senapan angin. Sekarang Cipacing terkenal karena produksi senapan angin," tutur guru sekolah dasar itu.
Pada masa jayanya, di Desa Cikeruh terdapat sekitar 240 bengkel yang memproduksi senapan angin. Jumlah pengrajin lebih dari 500 orang. Badai krisis moneter 1998 lalu membuat banyak usaha pembuatan senapan angin gulung tikar.
"Waktu krisis moneter itu harga-harga naik, termasuk harga bahan baku pembuatan senapan angin. Tapi harga senapan angin tidak bisa naik. Ada pengrajin yang  banting stir jadi kuli dan tukang ojek.  Baru pada 2001 bisnis pelan-pelan mulai naik," jelasnya.
Jumlah bengkel yang tersisa di Desa Cikeruh sekitar 60 bengkel, sedang pengrajin 120 orang. Namun sejak usai Lebaran lalu penjualan senapan angin semakin lesu. Pemicunya, serangkaian penangkapan yang dilakukan polisi terhadap oknum pengrajin senapan angin di Desa Cipacing.
"Saya juga punya bengkel, sebulannya itu bisa produksi 35-40 pucuk dan laku semua. Tapi sejak dua minggu terakhir barang saya belum ada yang laku," jelasnya.
Kini orang-orang jadi takut memiliki senapan angin. "Katanya, sekarang kalau bawa-bawa senapan angin suka ditanyain polisi, orang jadi takut," tambahnya.

sumber : http://www.tribunnews.com/regional/2013/09/07/warga-cikeruh-pertama-kali-produksi-dorlok

Warga Cikeruh Pertama Kali Produksi Dorlok

TRIBUNNEWS.COM--Idih Sunaedi mengungkapkan awalnya warga Cikeruh memproduksi senjata api rakitan yang disebut dorlok.  Senapan itu bentuknya mirip senjata laras panjang pada umumnya, namun mekanisme untuk memukul bagian belakang peluru jauh lebih sederhana.
"Dorlok itu singkatan dari didor terus dicolok. Di colok untuk memasukan peluru. Sejak 1960-an warga Desa Cikeruh memproduksi senapan dorlok untuk Organisasi Keamanan Desa (OKD), sekarang namanya hansip. OKD menggunakan itu untuk melawan DI-TII (Darul Islam-Tentara Islam Indonesia) di Garut," ujarnya.
Pada masa itu produksi dorlok sangat didukung pemerintah, karena memang produksinya untuk mendukung perlawanan terhadap kelompok pemberontak DI-TII.  Peluru yang digunakan adalah peluru tajam yang dipasok Tentara Nasional Indonesia (TNI).
"Setelah DI-TII bubar,  senapan dorlok mulai dilarang,  sehingga warga membuat senapan angin. Waktu itu memang senapan angin lagi ngetren," ujarnya. Warga lebih dulu  membeli senapan angin produksi luar negri.
Senapan itu lalu dibongkar untuk dilihat secara lebih detail komponen-komponennya. Warga lalu  membuat tiruannya, hingga akhirnya bisa melakukan memodifikasi.
 Ternyata produksi lokal tersebut laku di pasaran, dan menarik perhatian warga Desa Cipacing yang lokasinya bersebelahan dengan Cikeruk untuk datang dan berguru.
"Setelah warga Desa Cipacing bisa memproduksi sendiri, mereka mulai buka bengkel. Sampai akhirnya banyak yang usaha senapan angin. Sekarang Cipacing terkenal karena produksi senapan angin," tutur guru sekolah dasar itu.
Pada masa jayanya, di Desa Cikeruh terdapat sekitar 240 bengkel yang memproduksi senapan angin. Jumlah pengrajin lebih dari 500 orang. Badai krisis moneter 1998 lalu membuat banyak usaha pembuatan senapan angin gulung tikar.
"Waktu krisis moneter itu harga-harga naik, termasuk harga bahan baku pembuatan senapan angin. Tapi harga senapan angin tidak bisa naik. Ada pengrajin yang  banting stir jadi kuli dan tukang ojek.  Baru pada 2001 bisnis pelan-pelan mulai naik," jelasnya.
Jumlah bengkel yang tersisa di Desa Cikeruh sekitar 60 bengkel, sedang pengrajin 120 orang. Namun sejak usai Lebaran lalu penjualan senapan angin semakin lesu. Pemicunya, serangkaian penangkapan yang dilakukan polisi terhadap oknum pengrajin senapan angin di Desa Cipacing.
"Saya juga punya bengkel, sebulannya itu bisa produksi 35-40 pucuk dan laku semua. Tapi sejak dua minggu terakhir barang saya belum ada yang laku," jelasnya.
Kini orang-orang jadi takut memiliki senapan angin. "Katanya, sekarang kalau bawa-bawa senapan angin suka ditanyain polisi, orang jadi takut," tambahnya.

sumber : http://www.tribunnews.com/regional/2013/09/07/warga-cikeruh-pertama-kali-produksi-dorlok

Warga Cikeruh Pertama Kali Produksi Dorlok

TRIBUNNEWS.COM--Idih Sunaedi mengungkapkan awalnya warga Cikeruh memproduksi senjata api rakitan yang disebut dorlok.  Senapan itu bentuknya mirip senjata laras panjang pada umumnya, namun mekanisme untuk memukul bagian belakang peluru jauh lebih sederhana.
"Dorlok itu singkatan dari didor terus dicolok. Di colok untuk memasukan peluru. Sejak 1960-an warga Desa Cikeruh memproduksi senapan dorlok untuk Organisasi Keamanan Desa (OKD), sekarang namanya hansip. OKD menggunakan itu untuk melawan DI-TII (Darul Islam-Tentara Islam Indonesia) di Garut," ujarnya.
Pada masa itu produksi dorlok sangat didukung pemerintah, karena memang produksinya untuk mendukung perlawanan terhadap kelompok pemberontak DI-TII.  Peluru yang digunakan adalah peluru tajam yang dipasok Tentara Nasional Indonesia (TNI).
"Setelah DI-TII bubar,  senapan dorlok mulai dilarang,  sehingga warga membuat senapan angin. Waktu itu memang senapan angin lagi ngetren," ujarnya. Warga lebih dulu  membeli senapan angin produksi luar negri.
Senapan itu lalu dibongkar untuk dilihat secara lebih detail komponen-komponennya. Warga lalu  membuat tiruannya, hingga akhirnya bisa melakukan memodifikasi.
 Ternyata produksi lokal tersebut laku di pasaran, dan menarik perhatian warga Desa Cipacing yang lokasinya bersebelahan dengan Cikeruk untuk datang dan berguru.
"Setelah warga Desa Cipacing bisa memproduksi sendiri, mereka mulai buka bengkel. Sampai akhirnya banyak yang usaha senapan angin. Sekarang Cipacing terkenal karena produksi senapan angin," tutur guru sekolah dasar itu.
Pada masa jayanya, di Desa Cikeruh terdapat sekitar 240 bengkel yang memproduksi senapan angin. Jumlah pengrajin lebih dari 500 orang. Badai krisis moneter 1998 lalu membuat banyak usaha pembuatan senapan angin gulung tikar.
"Waktu krisis moneter itu harga-harga naik, termasuk harga bahan baku pembuatan senapan angin. Tapi harga senapan angin tidak bisa naik. Ada pengrajin yang  banting stir jadi kuli dan tukang ojek.  Baru pada 2001 bisnis pelan-pelan mulai naik," jelasnya.
Jumlah bengkel yang tersisa di Desa Cikeruh sekitar 60 bengkel, sedang pengrajin 120 orang. Namun sejak usai Lebaran lalu penjualan senapan angin semakin lesu. Pemicunya, serangkaian penangkapan yang dilakukan polisi terhadap oknum pengrajin senapan angin di Desa Cipacing.
"Saya juga punya bengkel, sebulannya itu bisa produksi 35-40 pucuk dan laku semua. Tapi sejak dua minggu terakhir barang saya belum ada yang laku," jelasnya.
Kini orang-orang jadi takut memiliki senapan angin. "Katanya, sekarang kalau bawa-bawa senapan angin suka ditanyain polisi, orang jadi takut," tambahnya.

sumber : http://www.tribunnews.com/regional/2013/09/07/warga-cikeruh-pertama-kali-produksi-dorlok

Warga Cikeruh Pertama Kali Produksi Dorlok

TRIBUNNEWS.COM--Idih Sunaedi mengungkapkan awalnya warga Cikeruh memproduksi senjata api rakitan yang disebut dorlok.  Senapan itu bentuknya mirip senjata laras panjang pada umumnya, namun mekanisme untuk memukul bagian belakang peluru jauh lebih sederhana.
"Dorlok itu singkatan dari didor terus dicolok. Di colok untuk memasukan peluru. Sejak 1960-an warga Desa Cikeruh memproduksi senapan dorlok untuk Organisasi Keamanan Desa (OKD), sekarang namanya hansip. OKD menggunakan itu untuk melawan DI-TII (Darul Islam-Tentara Islam Indonesia) di Garut," ujarnya.
Pada masa itu produksi dorlok sangat didukung pemerintah, karena memang produksinya untuk mendukung perlawanan terhadap kelompok pemberontak DI-TII.  Peluru yang digunakan adalah peluru tajam yang dipasok Tentara Nasional Indonesia (TNI).
"Setelah DI-TII bubar,  senapan dorlok mulai dilarang,  sehingga warga membuat senapan angin. Waktu itu memang senapan angin lagi ngetren," ujarnya. Warga lebih dulu  membeli senapan angin produksi luar negri.
Senapan itu lalu dibongkar untuk dilihat secara lebih detail komponen-komponennya. Warga lalu  membuat tiruannya, hingga akhirnya bisa melakukan memodifikasi.
 Ternyata produksi lokal tersebut laku di pasaran, dan menarik perhatian warga Desa Cipacing yang lokasinya bersebelahan dengan Cikeruk untuk datang dan berguru.
"Setelah warga Desa Cipacing bisa memproduksi sendiri, mereka mulai buka bengkel. Sampai akhirnya banyak yang usaha senapan angin. Sekarang Cipacing terkenal karena produksi senapan angin," tutur guru sekolah dasar itu.
Pada masa jayanya, di Desa Cikeruh terdapat sekitar 240 bengkel yang memproduksi senapan angin. Jumlah pengrajin lebih dari 500 orang. Badai krisis moneter 1998 lalu membuat banyak usaha pembuatan senapan angin gulung tikar.
"Waktu krisis moneter itu harga-harga naik, termasuk harga bahan baku pembuatan senapan angin. Tapi harga senapan angin tidak bisa naik. Ada pengrajin yang  banting stir jadi kuli dan tukang ojek.  Baru pada 2001 bisnis pelan-pelan mulai naik," jelasnya.
Jumlah bengkel yang tersisa di Desa Cikeruh sekitar 60 bengkel, sedang pengrajin 120 orang. Namun sejak usai Lebaran lalu penjualan senapan angin semakin lesu. Pemicunya, serangkaian penangkapan yang dilakukan polisi terhadap oknum pengrajin senapan angin di Desa Cipacing.
"Saya juga punya bengkel, sebulannya itu bisa produksi 35-40 pucuk dan laku semua. Tapi sejak dua minggu terakhir barang saya belum ada yang laku," jelasnya.
Kini orang-orang jadi takut memiliki senapan angin. "Katanya, sekarang kalau bawa-bawa senapan angin suka ditanyain polisi, orang jadi takut," tambahnya.

sumber : http://www.tribunnews.com/regional/2013/09/07/warga-cikeruh-pertama-kali-produksi-dorlok

Rabu, 03 Juli 2013

Warga Cikeruh Datangi Kepala Desa Pertanyakan BLSM

Metrotvnews.com, Sumedang: Warga Cikeruh, Kecamatan Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, beramai-ramai mendatangi kantor desa, Senin (1/7). Mereka menanyakan mengapa namanya tidak terdaftar sebagai penerima Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM).

Menurut warga, mereka dulu mendapatkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan beras miskin (raskin). Mereka menganggap, BLSM salah sasaran karena banyak orang mampu justru memperoleh bantuan.

Warga yang umumnya ibu rumah tangga itu, diterima Kepala Desa Cikeruh. Dalam pertemuan tersebut, Kepala Desa menjelaskan bahwa pihaknya tidak dilibatkan dalam penentuan nama dan jumlah warga yang memperoleh BLSM.

Usai pertemuan, Kepala Desa berjanji akan mengajukan 80 nama kepala keluarga yang mendatanginya ke pemerintah melalui kecamatan.

Editor: Kesturi Haryunani

Rabu, 05 Juni 2013

Picture Of Village

senja di Pesawahan Cikeruh

Picture Of Village

View of Gunung Geulis dan Sawah

Picture Of Village

Air Mengalir di Sawah, salasatu pemandangan yang masih dapat dilihat di Desa Cikeruh Kecamatan Jatinangor Kabupaten sumedang

Sabtu, 31 Maret 2012

Pro-Kontra Sumur Artesis, Tiba-tiba Muncul Spanduk



JATINANGOR (GM) - Pro dan kontra terkait rencana pembangunan sumur artesis di Apartemen Pinewood di kawasan Jatinangor, Kab. Sumedang, tiba-tiba muncul spanduk penolakan sumur artesis di Jalan Kolonel Achmad Syam, Desa Cikeruh, Kec. Jatinangor.

Pemantauan "GM", Rabu (28/3), spanduk tersebut ditulis Aliansi Mahasiswa Jatinangor dan dipasang di jalan tersebut oleh sejumlah warga sebagai bentuk penolakan rencana pembangunan sumur artesis untuk sebuah apartemen di Desa Cikeruh.

Spanduk yang terbuat dari kain berwarna kuning tersebut bertuliskan, "Perizinan Sumur Artesis di Jatinangor adalah Bukti Ketidakseriusan Pemerintah dalam Melayani Rakyatnya".

Salah seorang warga setempat, Deden (30) mengatakan, warga menyatakan keberatan adanya sumur artesis di wilayah Cikeruh dan hingga kini belum mendapat izin. Namun, warga banyak yang kecewa karena saat ini sumur tersebut tengah dikerjakan.

"Bukan hanya warga, pihak Desa Cikeruh pun jelas-jelas menolaknya. Alasannya, jika ada sumur artesis tentu warga akan terancam kekeringan, sehingga menyulitkan kehidupan sehari-hari dalam memenuhi air," kata Deden.

Menurut Deden, spanduk penolakan tersebut sebelumnya atas inisiatif warga, Namun akhirnya mendapat dukungan dari Aliansi Mahasiswa Jatinangor. "Kita bersyukur mahasiswa turut peduli terhadap kondisi sekitarnya," kata Deden.

Sebelumnya, Kepala Desa Cikeruh, Ade Rachmat juga menyatakan, secara tegas menolak pembanguna sumur artesis di sebuah apartemen di wilayahnya. "Karena banyak warga yang menolaknya, tentu saja aparat desa tidak berani mengizinkan keberadaan sumur artesis di sebuah apartemen tersebut," kata Ade Rahmat.

Menurut Ade, sejak awal pembangunan apartemen warga menolak bila apartemen tersebut menggunakan air dari sumur artesis. "Pihak aparat Desa Cikeruh telah sepakat bersama warga tetap menolak pembangunan sumur artesis itu," katanya.

Ade menyatakan, banyak faktor yang menjadi dasar warga dengan tegas menolak sumur artesis di apartemen tersebut. Salah satunya, akan mengakibatkan kekeringan di Desa Cikeruh khususnya.

Ketua LSM Forrbeka, Sitam Rasyid menyatakan, pembangunan sebuah apartemen yang lokasinya di belakang Jatos tersebut sebenarnya tidak berdampak apa-apa bagi warga Jatinangor. Namun, justru sebaliknya, jika apartemen tersebut membangun sumur artesis, warga akan merasakan dampak yang paling buruk, yakni tersedotnya air bawah tanah.

Sedangkan humas Apartemen Pinewood, Irda saat dikonfirmasi "GM" melalui telepon selulernya mengatakan, pihaknya terus melakukan sosialisasi ke warga agar mendapat izin dalam pembuatan sumur artesis. "Kita tak akan henti-hentinya melakukan pendekatan dan sosialisasi kepada warga agar segera mendapat izin," kata Irda.
(B.46)**

Cikeruh

Cikeruh (Jawa Barat)

Cikeruh (Jawa Barat) is geographically located at latitude (-6.95 degrees) 6° 57' 0" South of the Equator and longitude (107.76 degrees) 107° 45' 36" East of the Prime Meridian on the Map of the world.
The locations related to Cikeruh (Jawa Barat) are represented by the flight path Superman would take between two points and may not be nearest by road. For example, Cikeruh (Jawa Barat) is located 1.1 kilometre from Rancaekek (Jawa Barat). Cikeruh (Jawa Barat) is located 4 kilometre from Cileunyi (Jawa Barat). Cikeruh (Jawa Barat) is located 8.9 kilometre from Cicalengka (Jawa Barat). Cikeruh (Jawa Barat) is located 11.1 kilometre from Majalaya (Jawa Barat). Cikeruh (Jawa Barat) is located 14.4 kilometre from Ciparay (Jawa Barat).

Sabtu, 19 November 2011

UPTD Pertanian Gelar Bintek

UPTD Pertanian Gelar Bintek JATINANGOR,(GM)- Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Wilayah Jatinangor yang membawahi dua wilayah, yakni Kec. Jatinagor dan Kec. Cimanggung, Kab. Sumedang mengadakan bimbingan dan pelatihan (bintek) bagi kelompok tani (poktan) yang ada di Kec. Cimanggung, Rabu (16/11). Mereka diikutsertakan dalam sekolah lapangan (SL). Para petani yang dilibatkan dalam SL itu berasal dari 17 kelompok tani yang masing-masing beranggotakan 20 orang. "Tujuan SL ini meningkatkan sumber daya manusia bagi para petani. Selain meningkatkan penghasilan mereka dalam menggarap lahan," kata Kepala UPTD Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Wilayah Jatinangor, Ir. Amir Sapiudin kepada wartawan di Jatinangor, Rabu (15/11). Menurut Amir, para petani ikut serta dalam SL sesuai usia tanam dari tanaman yang mereka garap. "Jika usia tanam padi tiga bulan maka mereka mendapat praktik langsung di lapangan selama usia tanam tersebut," katanya. Pihak yang dilibatkan langsung dalam bimbingan ini adalah para petugas penyuluh dari UPTD Wilayah Jatinangor dan Cimanggung. Mereka disebar di sejumlah desa di lahan pertanian di Kec. Cimanggung. Saat ini SL yang sedang berjalan di Desa/Kec. Cimanggung. Selain itu, UPTD Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Wilayah Jatinangor juga tengah membangun jaringan irigasi di lahan pertanian. Di antaranya di Desa Cimanggung dan Desa Tegalmanggung, Kec. Cimanggung. Alokasi dana untuk pembangunan irigasi itu berasal dari program pagu indikatif kewilayahan (PIK). Di samping itu, UPTD juga menyalurkan bantuan benih padi berbagai varietas. Seperti nonhibrida, padi gogo, jagung hibrida, termasuk bantuan obat-obatan dan pupuk. (B.105)**

Senin, 07 November 2011

Transisi sebuah Lingkungan

Katika kita mula dekat dengan sesuatu hal yang kita sukai. Tetapi masa itu harus terhenti, karena sebuah masa yang transisi. Perubahan kondisi Lingkungan dan Perubahan Kondisi Sosial kadang membawa kita larut didalamnya untuk terus tergerus arus yang tidak jelas, dan tinggal menunggu waktu kapan kita akan tenggelam. Harusnya kita dapat memberikan warna yang terang dan jelas pada lingkungan ini, apa boleh buat, percepatan lingkungan berbading miris dengan percepatan kedewasaan masyarakatnya. Banyak Nilai Luhur Kemanusiaan yang mulai pudar dan akan sepertinya akan ditinggalkan. Semua harus bernilai materi, uang dan uang... Tidak ada yang gratis katanya.... Tapi disisi lain dan di lain waktu mereka menanyakan, mana gratisannya? Individualistis semakin jelas dan nyata. Mari kita mulai berintrospeksi diri, dengan apa yang terjadi pada diri sendiri dan Lingkungan kita... Selamat Bermuhasabah......

Memaknai Idul Adha

Di hari Idul Adha, bagi umat Islam yang mampu dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban. Pada dasarnya, penyembelihan binatang kurban ini mengandung dua nilai yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Kesalehan ritual berarti dengan berkurban, kita telah melaksanakan perintah Tuhan yang bersifat transedental. Kurban dikatakan sebagai kesalehan sosial karena selain sebagai ritual keagamaan, kurban juga mempunyai dimensi kemanusiaan. Bentuk solidaritas kemanusiaan ini termanifestasikan secara jelas dalam pembagian daging kurban. Perintah berkurban bagi yang mampu ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang respek terhadap fakir-miskin dan kaum dhu’afa lainnya. Dengan disyari’atkannya kurban, kaum muslimin dilatih untuk mempertebal rasa kemanusiaan, mengasah kepekaan terhadap masalah-masalah sosial, mengajarkan sikap saling menyayangi terhadap sesama. Meski waktu pelaksanaan penyembelihan kurban dibatasi (10-13 Dzulhijjah), namun jangan dipahami bahwa Islam membatasi solidaritas kemanusiaan. Kita harus mampu menangkap makna esensial dari pesan yang disampaikan teks, bukan memahami teks secara literal. Oleh karenanya, semangat untuk terus ’berkurban’ senantiasa kita langgengkan pasca Idul Adha. Saat ini kerap kita jumpai, banyak kaum muslimin yang hanya berlomba meningkatkan kualitas kesalehan ritual tanpa diimbangi dengan kesalehan sosial. Banyak umat Islam yang hanya rajin shalat, puasa bahkan mampu ibadah haji berkali-kali, namun tidak peduli dengan masyarakat sekitarnya. Sebuah fenomena yang menyedihkan. Mari kita jadikan Idul Adha sebagai momentum untuk meningkatkan dua kesalehan sekaligus yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Selamat berhari raya !

Sabtu, 15 Januari 2011

Pernyataannya yang Berbau SARA Rektor IPDN Diminta Tanggung Jawab

Sabtu, 15 Januari 2011
Pernyataannya yang Berbau SARA
Rektor IPDN Diminta Tanggung Jawab
JATINANGOR,(GM)-
Sejumlah tokoh Jatinangor meminta Rektor Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), I Nyoman Sumaryadi bertanggung jawab dan mundur dari jabatannya. Sumaryadi dinilai menyinggung masyarakat Sunda dengan pernyataannya pada apel pagi di kampus IPDN Jatinangor, Kamis (13/1).

Hal ini terungkap dalam pertemuan sejumlah tokoh Jatinangor di Sanggar Motekar, Desa Sayang, Kec. Jatinangor, Kab. Sumedang, Jumat (14/1). Hadir dalam pertemuan tersebut Sekretaris Forum Jatinangor, Dudi Supardi, mantan anggota DRPD Kab. Sumedang Ismet Suparmat, Ketua Paguyuban Sumedang Larang Muhammad Ahmad, Ketua Puser Budaya Sunda Arisandi, dan seniman Sunda Supriatna. Selain itu tampak juga Camat Jatinangor Nandang Suparman dan Kapolres Sumedang AKBP Nurulloh.

Menurut Supriatna, jika benar pernyataan tersebut disampaikan rektor, sebagai urang Sunda dirinya merasa tersinggung. Untuk itu, pihaknya menuntut Sumaryadi mundur dari jabatannya. "Tentu kita sangat menyayangkan kalau statement itu benar muncul dari mulut seorang pemimpin. Jika demikian, kami meminta beliau minta maaf dan mundur dari jabatannya," tegas Supriatna.

Meski demikian, pihaknya akan menelusuri terlebih dulu penyebar SMS berisi pernyataan Sumaryadi itu dan meminta informasi dari pihak yang netral. "Harus ada pembelajaran bagi yang telah menyebar SARA, apalagi yang menyinggung warga Sunda. Kalau dibiarkan harga diri kita sebagai masyarakat Sunda rasanya diinjak-injak," ujarnya.

Hal senada terlontar dari Dudi Supardi. Ia berpendapat, jika rektor telah melakukan kesalahan dengan ucapannya maka ia harus meminta maaf dan mempertanggungjawabkan perbuatannya itu. "Jelas kita kecewa kalau pernyataan itu benar. Beliau semestinya menghargai masyarakat Jatinanggor yang mayoritas urang Sunda. Bagaimanapun beliau hidup di Tatar Parahyangan," ucap Dudi.

Sementara Kapolres Sumedang, AKBP Nurulloh menyatakan, protes yang disampaikan sejumlah tokoh itu hal yang wajar. Namun tetap harus disampaikan dalam suasana kondusif dan mematuhi asas praduga tak bersalah. "Kami dari kepolisian hanya mengimbau agar protes disampaikan dengan mekanisme yang benar. Hindari perilaku anarkis dan jaga selalu ketertiban," harapnya.

Sementara Camat Jatinangor, Nandang Suparman meminta warga untuk tidak terprovokasi SMS tersebut. "Saya minta warga lebih cerdas untuk tidak terpancing hal-hal yang belum pasti kebenarannya. Saya sudah konfirmasi ke IPDN dan tidak ada sama sekali pernyataan berbau SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) tersebut," ujar Nandang.

Suasana memanas saat beredar pesan singkat di antara sejumlah orang yang isinya menyebutkan, pada apel pagi Rektor IPDN mengeluarkan pernyataan yang menyinggung perasaan orang Sunda. Pernyataan SARA itu tidak pantas dikatakan seorang pimpinan pencetak kader pamong praja yang notabene berasal dari seluruh penjuru Nusantara. Bisa jadi atas penebangan pohon yang dilakukan warga sekitar kampus dan banyaknya kabel yang hilang serta saluran air yang rusak, rektor disebut menyatakan, apakah semua orang Sunda maling.

Membantah

Saat dikonfirmasi, rektor membantah mengeluarkan pernyataan tersebut. Ia menegaskan tidak pernah mengucapkan hal yang menyinggung perasaan orang Sunda. "Saya tegaskan, statement saya pada apel pagi itu adalah, 'Saudara-saudara pamdal (pengamanan dalam) mayoritas adalah saudara kita dan tahu semua bahwa orang Sunda budayanya halus, sopan, dan eweuh pakewuh, sehingga ada orang masuk kampus mengambil barang-barang atau maling inventaris negara, bekas rehab asrama IPDN, tidak berani menegur. Jangan sampai pamdal kita melindungi maling, artinya ikut jadi maling, maka bekerja lebih baik dan pertahankan nama baik orang Sunda'," terangnya.

"Pernyataan itu disaksikan peserta apel. Saya minta kalimat tersebut jangan dipelintir. Ini bentuk penghargaan saya terhadap teman-teman dan warga di IPDN. Saya justru mengingatkan agar menjaga nama baik IPDN bersama-sama secara sinergis. Sekali lagi mohon jangan salah mengerti. Maksud saya sangat baik sebagai sesama muslim," tambahnya. (B.48)**

Rabu, 12 Januari 2011

Api Lumat Gudang di Mako Brimob Polda Jabar

Rabu, 12 Januari 2011
Api Lumat Gudang di Mako Brimob Polda Jabar
JATINANGOR,(GM)-
Gudang penyimpanan alat pengamanan unjuk rasa di Markas Komando (Mako) Brimob Polda Jabar di Desa Cikeruh, Kec. Jatinanagor, Kab. Sumedang kebakaran hingga memunculkan ledakan yang terdengar dalam radius 3 km, Senin (10/1) sekitar pukul 20.00 WIB.

Berdasarkan informasi, dugaan sementara kebakaran tersebut berasal dari korsleting listrik. Dari pantauan "GM", Selasa (11/1), tempat kejadian perkara (TKP) kini dijaga ketat petugas hingga wartawan pun tidak diperbolehkan masuk.

Petugas penjaga di depan Markas Brimob sempat mengatakan Kapolda Jabar Irjen Pol Suparni Parto akan mengecek lokasi kejadian. Namun hingga pukul 13.00 WIB belum juga terlihat, sehingga wartawan kesulitan mencari tahu lebih lanjut tentang kebakaran itu.

Menurut warga sekitar, sempat terdengar ledakan dahsyat yang mengagetkan penduduk. "Saya lagi di rumah nonton TV saat tiba-tiba terdengar ledakan dari Markas Brimob. Ketika keluar terlihat asap hitam mengepul. Tapi kita enggak bisa membantu karena lokasi kebakaran ada di dalam kompleks Brimob," ungkap Heri (36).

Bersama warga lainnya, Heri hanya bisa melihat kepulan asap serta kesibukan beberapa anggota Brimob yang berusaha memadamkan api. "Mungkin ada sih warga lain yang ikut memadamkan, tapi saya tidak melihat karena anggota Brimob dibantu pemadam kebakaran pun cukup banyak," katanya.

Sementara Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Agus Rianto membenarkan adanya kebakaran di salah satu gudang peralatan Sat Brimobda Jabar di Cikeruh tersebut. "Dalam kejadian tersebut tidak ada korban jiwa dan beberapa peralatan khusus yang dimiliki Satbrimob hangus terbakar," katanya.

Menurutnya, untuk mengetahui penyebab pasti musibah kebakaran tersebut, Polda Jabar masih menunggu penyelidikan Unit Labfor Mabes Polri. "Untuk pengetahui penyebab kebakaran, masih harus menunggu hasil dari Labfor Mabes Polri," ujarnya. (B.48/B.115)**

Senin, 10 Januari 2011

cikeruh: Polsek Harus Membuat Ruangan Khusus Merokok JATINANGOR,(GM)-

cikeruh: Polsek Harus Membuat Ruangan Khusus Merokok JATINANGOR,(GM)-

Polsek Harus Membuat Ruangan Khusus Merokok JATINANGOR,(GM)-

Selasa, 11 Januari 2011
Polsek Harus Membuat Ruangan Khusus Merokok
JATINANGOR,(GM)-
Dalam rangka mendukung progam hidup sehat dan menindaklanjuti Peraturan Kapolres Sumedang No. 1, Januari Tahun 2011, polsek di wilayah hukum Polres Sumedang harus membuat ruangan khusus merokok dan larangan merokok di tempat umum atau di dalam ruangan.

Tidak terkecuali Polsek Jatinangor. Menurut Kapolres Sumedang, AKBP Nurullah melalui Kapolsek AKP Sujoto, Senin (10/1), peraturan yang dikeluarkannya itu bukan untuk melarang anggota atau para tamu merokok, melainkan untuk memperhatikan kepentingan orang di sekitar, karena tidak semua orang merokok.

"Aturan yang dikeluarkan itu pada dasarnya mengacu terhadap imbauan pemerintah yang salah satunya menyediakan tempat khusus bagi perokok," kata Sujoto.

Ditambahkan, penertiban tempat merokok di lingkungan Polres Sumedang merupakan upaya melaksanakan peraturan yang ditetapkan dan dikeluarkan awal tahun 2011 ini. Peraturan tersebut, lanjutnya, bukan merupakan larangan secara total bagi anggota atau tamu berhenti merokok, melainkan larangan untuk merokok di ruangan dan tempat umum, seperti tempat pelayanan. "Kita hanya berusaha disiplin pada aturan, di samping menghargai orang yang tidak merokok," terangnya.

Sisi positif dari keluarnya peraturan tersebut, kata Sujoto, seperti ruangan Polsek Jatinangor menjadi bersih dan menunjang untuk hidup lebih sehat. "Dengan diberlakukannya larangan untuk merokok di sembarang tempat atau ruangan di mapolsek, mudah-mudah anggota atau tamu yang datang bisa menaatinya. Kalau ruangan khusus merokok sudah ada, ditambah ada plang peringatan, orang yang mempunyai kebiasaan merokok pun akan malu jika dia memaksakan merokok di ruang atau tempat yang sudah dilarang," paparnya.

Sementara itu, sejumlah warga menyambut baik aturan tersebut. Seperti yang diungkapkan Andhika, mahasiswa Unpad. Ia menyatakan, peraturan tersebut sangat bagus demi menjalankan hidup sehat di kawasan Jatinangor. "Saya meminta polres serius dengan kebijakan ini. Sebab, masyarakat mempunyai hak agar kesehatan mereka dilindungi. Seharusnya Pemkab Sumedang juga tegas menerapkan kawasan dilarang merokok sekarang juga," ujarnya.

Hal yang sama disampaikan Agus Purwanto, warga Desa Sayang, Jatinangor. Menurutnya, merokok memang menjadi hak setiap orang. Namun, hal yang lebih penting dari sekadar kebutuhan itu adalah manusia mempunyai hak untuk meminta kesehatannya dilindungi.

Selama ini, lanjut Agus, penyediaan kawasan khusus merokok di pusat-pusat perbelanjaan atau gedung-gedung tertutup tidak berjalan efektif untuk mengurangi polusi udara akibat asap rokok. "Faktanya, pembuatan ruang khusus untuk merokok ini tidak efektif, karena ventilasi dan filtrasi udara yang ada tidak mampu berfungsi sebagai alat sirkulasi udara," ujarnya. (B.48)**